jous.jpg

PolaTabernakel
Home
ILMU KOMPUTER
KESEHATAN
Komik Online
Kitab Suci Net
Alkitab Elektronik
B
Lowongan Kerja
Pendalaman ALkitab
Kaum Muda
Kabar Baik
PolaTabernakel
Cerita
Sejarah Gereja
Kasih
TABERNAKEL
TABERNAKEL
Isi Hati Tuhan
Email
Download
Hak Sulung
Sejarah Alkitab
Artikel
Halaman Istimewa
Situs Kristen
Lirik Lagu
Komik Online
Kumpulan Kotbah

 
GPT "Kristus Kehidupan " Belawan
 

Pendalaman Alkitab (Bible Study) - Tabernakel
Pengajaran Tabernakel bermula dari ungkapan yang diberikan oleh Roh Kudus pada Pdt. F. G. van Gessel (Alm.), di suatu hari pada tahun 1935 melalui Yohanes 1:14

"... Firman telah menjadi daging dan diam di antara kita ... "

Kata 'diam' tersebut dibaca "... bertabernakel..." (bhs Yunani: skenoo) oleh beliau. Inilah yang merupakan ungkapan awal dari keseluruhan 'Wahyu' hal Pengajaran Tabernakel yang terus diungkap-bukakan Roh Kudus kepada beliau, sehingga dengan sangat akurat seluruh Perjanjian Lama (39 Kitab) dan seluruh Perjanjian Baru (27 Kitab) telah ditempatkan dalam susunan Pola Tabernakel yang ajaib ini.



Tujuan akhir dari Pengajaran Tabernakel ini adalah Gereja sebagai Mempelai Wanita yang dipersiapkan bagi Mempelai Pria Surga yaitu Kristus Anak Domba Allah (Wahyu 19:7, 8; Wahyu 21:22)! Itulah sebabnya kenapa disebut sebagai Pengajaran Kabar Mempelai dalam Terang Tabernakel!

Tujuan thread ini adalah "bible study" tentang tabernakel yang akan dijelaskan secara bertahap. Yang mengerti tabernakel bisa membantu mengkoreksi misal ada ayat yang salah dengan pm saya.

Kita mulai dari pengertian TABERNAKEL itu sendiri:
Wahyu 21: 2-3 -> Dan aku melihat kota yang kudus, Yerusalem yang baru, turun dari sorga, dari Allah, yang berhias bagaikan pengantin perempuan yang berdandan untuk suaminya. Lalu aku mendengar suara yang nyaring dari takhta itu berkata: "Lihatlah, kemah Allah ada di tengah-tengah manusia dan Ia akan diam bersama-sama dengan mereka. Mereka akan menjadi umat-Nya dan Ia akan menjadi Allah mereka.
Yohanes 1: 14 -> Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran.
Ibrani 8: 1-5 -> Inti segala yang kita bicarakan itu ialah: kita mempunyai Imam Besar yang demikian, yang duduk di sebelah kanan takhta Yang Mahabesar di sorga, dan yang melayani ibadah di tempat kudus, yaitu di dalam kemah sejati, yang didirikan oleh Tuhan dan bukan oleh manusia. Sebab setiap Imam Besar ditetapkan untuk mempersembahkan korban dan persembahan dan karena itu Yesus perlu mempunyai sesuatu untuk dipersembahkan. Sekiranya Ia di bumi ini, Ia sama sekali tidak akan menjadi imam, karena di sini telah ada orang-orang yang mempersembahkan persembahan menurut hukum Taurat. Pelayanan mereka adalah gambaran dan bayangan dari apa yang ada di sorga, sama seperti yang diberitahukan kepada Musa, ketika ia hendak mendirikan kemah: "Ingatlah," demikian firman-Nya, "bahwa engkau membuat semuanya itu menurut contoh yang telah ditunjukkan kepadamu di atas gunung itu."

Perkataan TABERNAKEL tertulis dalam PERJANJIAN LAMA maupun di dalam PERJANJIAN BARU.

Tabernakel dalam bahasa Ibrani disebut "MISHKAN"
Tabernakel dalam bahasa Yunani disebut "SKENE/SKENOO"
Pengertian daripada TABERNAKEL = "TEMPAT KEDIAMAN"

Wahyu 21 : 2 - 3
MEMPELAI WANITA TUHAN adalah TABERNAKEL ALLAH, yakni :

TEMPAT KEDIAMAN ALLAH DITENGAH-TENGAH MANUSIA.

Yohanes 1 : 14
YESUS = FIRMAN yang menjadi daging adalah juga TABERNAKEL, yang BER-TABERNAKEL diantara kita.

Ibrani 8 : 1 - 5
TABERNAKEL YANG SEJATI ada didalam SORGA, dimana Imam Besarnya adalah TUHAN YESUS KRISTUS sendiri yang duduk disebelah kanan Takhta Yang Mahabesar di Sorga.

Musa harus membangun Tabernakel menurut contoh dan model yang diperlihatkan Allah padanya di atas gunung.

Allah memperlihatkan padanya Tabernakel sejati yang ada di Sorga.

KESIMPULANNYA
TABERNAKEL adalah gambaran/bayangan dari KERAJAAN SORGA, TEMPAT KEDIAMAN ALLAH; atau

Pengertian rohani daripada TABERNAKEL adalah KERAJAAN SORGA.

(to be continued: karena banyaknya tahapan PA tentang Tabernakel, diharap sabar yah...kita akan bahas satu-satu peralatan dan pengertian secara rohani dan semoga Bible Study ini bisa menjadi berkat buat saudara... Amin! Inilah kemurahan yang telah diberikan oleh Allah kepada kita yang tidak bisa Anda cari dan dapatkan dalam agama manapun selain pengikut Kristus)

PENGAJARAN TABERNAKEL

I.Pengantar Pengajaran Tabernakel
I.1. Terang Baru dalam memahami Perjanjian Lama
I.1.1 Terang Baru

Banyak kali orang percaya sekarang ini menganggap kitab-kitab Perjanjian Lama dipandang sebagai kitab sejarah, meskipun ada sebagian isinya yang dapat ditafsirkan sebagai nubuatan akan hal-hal yang akan terjadi. Seringkali orang percaya bertanya-tanya, apa maksud Allah mengilhami para penulis untuk menuliskan peristiwa perjalanan hidup manusia sejak Adam, Nuh, Abraham, Ishak, Yakub, sampai akhirnya menjadi suatu bangsa, yaitu Israel. Yang paling menyedihkan adalah bahkan ada kecenderungan untuk meragukan bahwa isi Alkitab adalah Firman Tuhan. Khususnya kitab Kejadian, tentang masalah penciptaan manusia. Mereka yang tidak percaya, malah lebih mempercayai teori manusia tentang evolusi manusia dari pada Firman Tuhan.

Memahami isi kitab-kitab Perjanjian Lama tidak akan mencapai sasaran, bila kita menafsirkannya secara harfiah semata atau menurut kehendak kita sendiri (2 Petrus 1:20). Kita harus mengakui lebih dulu, bahwa Alkitab Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru merupakan satu kesatuan yang berkesinambungan. Untuk mengerti bagian yang satu harus menggunakan bagian yang lain untuk menjelaskannya. Membandingkan yang rohani dengan yang rohani, membandingkan ayat dengan ayat. Baik Perjanjian Lama diterangi oleh Perjanjian Baru, maupun sebaliknya.

Kita dapat belajar dari surat-surat rasul Paulus, bahwa “Semuanya ini telah menimpa mereka sebagai contoh dan dituliskan untuk menjadi peringatan bagi kita yang hidup pada waktu, di mana zaman akhir telah tiba.” (1 Korintus 10:11). Kita sekarang berada dalam zaman akhir, berarti isi surat ini juga ditujukan untuk kita, jemaat Tuhan di akhir zaman. Dengan demikian kita harus menggunakan surat ini sebagai pedoman, untuk memahami atau menafsirkan apa yang tertulis dalam Perjanjian Lama, yang ditempatkan sebagai dan “peringatan” bagi kita.
Kata “contoh” diterjemahkan dari bahasa Yunani tupos, too’-pos, yang menurut Strong’s Concordance:
• nomor 5179 dijelaskan sebagai berikut: “from 5180; a dia (as struck), i.e. (by implication) a stamp or scar; by analogy, a shape, i.e. a statue, (figuratively) style or resemblancel specifically, a sampler (“type”), i.e. a model (for imitation) or instance (for warning); --en-(ex-)ample, fashion, figure, form, manner, pattern, print.”
• nomor 5180 dijelaskan sebagai berikut: tuptw tupto toop’-to ; a primary verb (in a strengthened form); to “thump”, i.e. cudgel or pummel (properly, with a stick or bastinado), but in any case by repeated blows; thus differing from 3817 and 3960, which denote a [usually single] blow with the hand or any instrument, or 4141 with the fist [or a hammer], or 4474 with the palm; as well as from 5177, an accidental collision); by implication, to punish; figuratively, to offend (the conscience): --beat, smite, strike, wound.


Kalau diterjemahkan, kita akan menemukan bahwa penjelasan atas kata tersebut memang benar. Sebab seringkali Alkitab menyampaikan kebenaran dalam bentuk contoh, yang disampaikan dengan cara: bayangan atau gambar-bayang, analogi (perbandingan), kiasan atau symbol, dan perumpamaan. Dengan memahami hal ini, maka kita akan dapat memahami apa yang tertulis dalam Perjanjian Lama, yang merupakan “contoh” atau “types”. Contoh yang dapat dimengerti sebagai gambar-bayang atau analogi, kiasan atau bentuk yang lain, dapat berupa:
• pribadi manusia tertentu (Adam, Hawa, Abraham, Ishak, dan sebagainya);
• peristiwa (penciptaan, banjir, pernikahan dsb);
• riwayat hidup seseorang (perjalanan Abraham, Yusuf);
• benda-benda tertentu (emas, perak, ular, kayu dsb);
• pola (penciptaan, Tabernakel)

Semua itu, pada zaman Perjanjian Lama masih belum dibukakan kepada bangsa Israel. Bangsa Israel tidak memahami, mengapa mereka harus melakukan semua imamat yang demikian rumit dalam ibadah mereka selama bertahun-tahun. Inilah kemurahan Tuhan bagi kita di akhir zaman, suatu terang baru diberikan, agar kita dapat memahami rencana Allah secara lengkap, yang telah digelar mulai kitab-kitab Perjanjian Lama, sampai Perjanjian Baru.

I.1.2 Keuntungan hidup di masa kini
“Sebab, sekiranya perjanjian yang pertama itu tidak bercacat, tidak akan dicari lagi tempat untuk yang kedua. Sebab Ia menegor mereka ketika Ia berkata: “Sesungguhnya, akan datang waktunya,” demikian firman Tuhan, “Aku akan mengadakan perjanjian baru dengan kaum Israel dan dengan kaum Yehuda, bukan seperti perjanjian yang telah Kuadakan dengan nenek moyang mereka, pada waktu Aku memegang tangan mereka untuk membawa mereka keluar dari tanah Mesir.” (Ibrani 8:7-9a)

Untuk memahami perbedaan antara sesuatu yang asli dan salinannya, kita dapat membandingkan sebuah foto seekor ikan paus dengan ikan paus yang sebenarnya. Kita akan melihat sesuatu perbedaan yang sangat menyolok, baik dari besarnya maupun beratnya. Selembar kertas foto tidak akan pernah sama dengan ikan paus yang besarnya hampir sama dengan sebuah perahu dan beratnya kurang dari 40 ton. Gambar dua dimensi tidak akan mampu untuk memberi gambaran yang seutuhnya tentang seekor ikan paus raksasa.

Kitab Ibrani menggunakan kata “gambaran dan bayangan” (Ibrani 8:5), yang dapat diartikan “salinan” untuk menjelaskan ritual dan hal-hal yang terdapat dalam Perjanjian Lama, yaitu mengenai: Tabernakel (kemah pertemuan), Paskah, upacara korban dan tugas-tugas keimanan. Surat kepada Jemaat Korintus mengingatkan akan contoh yang diberikan Tuhan melalui kehidupan bangsa Israel di padang gurun [1 Korintus 10:1-11], sehingga kita yang hidup di zaman akhir ini tidak sampai jatuh dalam penyembahan berhala.

Tidak satupun upacara keagamaan yang seberapa besarpun, yang dapat mengekspresikan dengan lengkap tentang pengalaman dengan Allah, seperti sebuah foto seekor ikan paus dan foro sebuah gunung tidak akan pernah mampu mengekspresikan benda-benda yang sebenarnya tersebut dengan lengkap.

Menurut kitab Ibrani, upacara keagamaan Perjanjian Lama adalah suatu gambar bayang, sedangkan Kristus adalah yang penggenapannya. Penulis kitab Ibrani menarik suatu pelajaran dari tradisi Yahudi, yang terbentuk oleh ketaatan terhadap perintah Allah selama bertahun-tahun, meliputi upacara korban, hukum-hukum, tabernakel, imamat, hari pendamaian, dan sebagainya – dan menjelaskan bagaimana Kristus membukakan sekali dan lengkap, makna dari seluruh gambar bayang yang terselubung tersebut. Allah telah menggenapi semua yang telah dijanjikanNya dalam Perjanjian Lama, dengan menunjukkan suatu penggenapan yang sempurna, sehingga kita yang mendapat kemurahan tahu, bagaimana semua itu digenapi dengan lengkap dan sempurna, yaitu dalam Tuhan Yesus Kristus.

I.1.3. Manakah yang lebih baik?
Kitab Ibrani menekankan keuntungan-keuntungan dari hidup di masa kini, dari pada hidup dalam zaman Perjanjian Lama (“Perjanjian yang pertama”). Karena pengorbanan Kristus, maka korban binatang itu tidak diperlukan lagi [Ibrani 10:10-12], dan hukum Allah sekarang dituliskan dalam akal-budi (pikiran) kita dan dalam hati kita, bukan dalam bentuk suatu hukum yang tertulis [Ibrani 8:10]. Tuhan Yesus berseru dari atas kayu salib, “Sudah genap (selesai).” [Yohanes 19:30], makna dari perkataan Tuhan Yesus inilah yang dijelaskan oleh penulis kitab Ibrani, bahwa dalam Yesuslah, segala sesuatu yang dijanjikan Allah telah digenapi, atau diselesaikan.

Meskipun kehidupan dan pola ibadah bangsa Israel berfungsi sebagai contoh atau gambar bayang bagi kita, namun tetap saja kehidupan Israel dan Perjanjian Lama mempunyai makna yang besar bagi kita yang tidak pernah mengalami sendiri bagaimana kehidupan seperti yang dijalani oleh bangsa Israel waktu itu. Tetapi, sekarang timbul pertanyaan: “Siapa yang akan lebih menyukai bayangan daripada yang aslinya?”.

I.2. Perjalanan Bangsa Israel

Demikian besar bagian-bagian Alkitab yang membahas kehidupan bangsa Israel. Tentu Tuhan tidak bermaksud hanya menyajikan catatan sejarah suatu bangsa di bumi. Bila kita mengimani bahwa Alkitab dituliskan untuk menyampaikan rencana kekal-Nya, kita harus mempelajari dengan sudut pandang yang benar, sehingga kita mengetahui apa maksud Allah yang sebenarnya.

Maksud perjalanan yang membawa umat Israel dari Mesir ke tujuan akhir mereka, Gunung Sion, adalah sebagai contoh dan peringatan bagi kita yang hidup di zaman akhir ini [1 Korintus 10:1-11]. Karena itu, kita boleh dengan yakin menyatakan bahwa perjalanan bersejarah yang berlangsung kurang lebih 480 tahun sebelum pembangunan Bait Salomo, adalah sebuah gambar bayang yang menggambarkan perjalanan rohani gereja Tuhan baik secara individu maupun Jemaat secara utuh (tubuh Kristus), sejak dari pertobatannya sampai ia mencapai “kedewasaan penuh dan tingkat pertumbuhan yang sesuai dengan kepenuhan Kristus.” (Efesus 4:11-16]

Sebelum seseorang sampai di Gunung Sion rohani, pertama-tama ia harus melewati pengalaman Paskah (menerima korban Kristus), kemudian menyeberangi Laut Teberau (babtisan air). Dia terus maju sampai ke Gunung Sinai, yang melambangkan babtisan Roh Kudus. Setelah itu, ia perlu dan harus melangkah maju melewati padang gurun yang luas dan tidak mengenakkan bagi daging, menyeberangi sungai Yordan (mengalami sunat hati), kemudian memasui tanah perjanjian (Kanaan). Dari sini, ia harus menaklukkan musuh-musuh di dalam dan di luar tanah Kanaan (masuk ke dalam ruang Suci), yang menggambarkan perjalanan hidup memikul salib setiap hari, mematikan kedagingan dengan pertolongan Roh Kudus [Roma 8:12-17]. Pada akhirnya, ia akan mendaki Gunung Sion rohani, yang disamakan masuk ke dalam perhentian Allah yang sejati (masuk ke dalam ruang Maha Kudus). Tentang Sion, Allah berkata, “Inilah tempat perhentian-Ku selama-lamanya, di sini Aku hendak diam.” (Mazmur 132:13-14, Mazmur 74:2).

Adalah baik bagi kita untuk tidak saja menghargai dan merenungkan perjalanan umat Israel dari sudut pandang sejarah saja, tetapi juga dari sudut pandang kekekalan. Dengan memahami perjalanan Israel secara rohani, kita akan mendapatkan pola kehidupan Kristiani di zaman akhir ini dengan benar. Selanjutnya pimpinan Roh Kudus akan memandu kita berjalan seturut penggenapan pola tersebut.

I.2.1. Kitab Kejadian
Dalam pemandangan Allah, perjalanan ini sudah selesai, bahkan sebelum dunia dijadikan [Ibrani 4:3b]. Tidak lama setelah air bah terjadi, Allah mengadakan sebuah perjanjian dengan Abraham dan keturunannya, bahwa Ia akan memberikan tanah Kanaan kepada mereka [Kejadian 15:18-21]. Di tanah Kanaanlah terletak Gunung Sion, tempat kediaman-Nya. Tuhan juga menerangkan dengan sangat jelas kepada Abraham bahwa sebelum keturunannya mewarisi tanah itu, mula-mula mereka akan menjadi pendatang di sebuah tanah asing (Mesir) dan dibuat menderita selama kurang lebih 400 tahun. Setelah itu, Allah akan menghukum bangsa Mesir dan membawa mereka (Israel) keluar dengan banyak harta dari Mesir [Kejadian 15:13-14]. Jelas sekali telihat, bahwa Allah telah mengatur seluruh perjalanan ini jauh sebelum hal itu terjadi. Pertama-tama, Ia mengutus Yusuf ke Mesir, kemudian kelaparan hebat memaksa Yakub dan keluarganya untuk berpindah ke Mesir. Mereka tinggal di Mesir selama kurang lebih 400 tahun, dan bertumbuh menjadi suatu bangsa yang berjumlah kira-kira 3 juta jiwa. Kemudian ketika Firaun lainnya naik tahta, dia tidak lagi mengenal dan menghormati Yusuf. Dia menindas dan menjalankan perbudakkan atas keturunan Abraham tersebut.

1.2.2. Kitab Keluaran sampai Ulangan
Pada waktunya Musa pun dilahirkan. Ia merupakan generasi ke tujuh dari Abraham. Paskah ditetapkan dan keselamatan dari maut ditawarkan melalui darh anak domba (Paskah). Musa melaksanakan penghakiman Allah atas Firaun dan Mesir. Kemudian Musa membawa Israel keluar dari perbudakan dan mengarahkan mereka ke tanah perjanjian. Tujuan mereka bukanlah sekedar sampai ke tanah perjanjian, melainkan ke gunung Sion di tanah Kanaan [Keluaran 15:17]. Gunung Sion adalah tempat kediaman Allah. Panggilan itu tidak pernah hanya sekedar mendapatkan suatu harta pusaka, ibadah atau pelayanan, melainkan menuju atau mendapatkan pribadi Allah sendiri.

Dari Mesir, mereka menyeberangi Laut Teberau (babtisan air). Kemudian mereka sampai ke gunung Sinai pada bulan ke tiga (bulan perayaan Pentakosta). Sinai melambangkan babtisan Roh Kudus. Namun, panggilan tertinggi bukanlah untuk berkemah di sekitar gunung Sinai atau berhenti setelah menerima babtisan Roh Kudus. Gunung Sinai terletak di padang gurun. Panggilan itu adalah panggilan menuju ke sebuah gunung yang lebih besar, yaitu gunung Sion. Tempat perhentian itu terletak di seberang sungai Yordan di dalam tanah perjanjian. Dalam kurun waktu inilah Allah memberikan suatu pola ibadah melalui Musa kepada bangsa Israel, yang saat ini kita menyebutnya pengajaran Tabernakel. Kareka kegagalan mereka dalam melewati ujian-ujian di padang gurun, Allah menyatakan di Kadesy Barnea bahwa mereka tidak akan masuk ke dalam perhentian-Nya. Akibatnya, Israel berputar-putar di padang gurun tanpa tujuan selama kurang lebih 40 tahun sampai generasi yang penuh pemberontakan itu habis, kecuali Yosua dan Kaleb. [Bilangan 14:26-35; 26:64,65]

I.2.3. Kitab Yosua
Yosua memimpin sebuah generasi Israel yang baru menyeberangi sungai Yordan ke dalam tanah perjanjian. Yordan melambangkan “mati terhadap dosa”. Hati mereka lain (berubah) setelah menyeberangi Yordan. Israel tidak lagi ingin kembali ke Mesir. Mereka mengalami penyunatan di Gilgal, dan kedagingan mereka dihadapkan kepada Pedang (Firman Allah). Yosua terus memimpin mereka melawan 31 raja-raja yang berkuasa di tanah Kanaan, yang melambangkan “tuan-tuan” yang memerintah di dalam kehidupan kita. Setiap bagian dari keakuan harus dikerat, seiris demi seiris, oleh Firman Allah.

I.2.4. Kitab Hakim-Hakim
Yosua menyatakan, “Berapa lama lagi kamu bermalas-malas, sehingga tidak menduduki negeri yang telah diberikan kepadamu oleh Tuhan…Masih banyak yang belum diduduki.” Yosua tidak pernah membawa mereka ke dalam perhentian yang penuh [Ibrani 4:8-9]. Setelah Yosua meninggal, kitab Hakim-Hakim memperlihatkan kepada kita betapa Israel berkompromi dan tinggal dengan musuh-musuh yang tinggal di Kanaan, yang menggambarkan kehidupan yang tidak murni, hidup rohani yang mendua hati. Di satu sisi mengikuti Tuhan, tetapi juga membiarkan musuh-musuh rohani menguasai sisi hidup kerohaniannya yang lain. Mereka mengabaikan dan menghindari wilayah-wilayah yang seharusnya dibereskan dengan pedang. Sion masih dikuasai oleh bangsa Yebus, seperti halnya wilayah yang lain.

I.2.5. Kitab 1 dan 2 Samuel
Beberapa generasi kemudian, Daud, seorang yang berkenan di hati Allah menjadi raja. Di usia 37 tahun, dia menawan kubu pertahanan Sion dan meletakkan Tabut Perjanjian disana. Sion terkenal sebagai gunung yang kudus. Oh betapa kemuliaan, kuasa, penyembahan, dan keintiman dengan Tuhan ada di Sion. Akhirnya, kurang lebih 443 tahun setelah Israel memulai perjalanan mereka keluar dari Mesir, mereka mencapai Sion.

I.2.5. Kitab 1 dan 2 Raja-raja, 1 dan 2 Tawarikh
Putra Daud, yaitu Salomo membangun Bait Allah dan membawa Tabut Perjanjian naik (“bring up the ark”) dari Sion dan menempatkannya di sana. Kuasa dan kemuliaan begitu besarnya, sehingga para imam-imam tidak bsa berdiri [1 Raja-raja 8:1-11]. Bangsa-bangsa datang untuk mendengar dan melihat kemuliaan dan hikmat Allah yang ada di Bait Allah ini. Karena itu, sasaran setiap orang percaya adalah menyelesaikan perjalanan mereka dari Mesir (gambaran duniawi) sampai ke Sion (gambaran sorgawi), yaitu untuk sampai kepada kemuliaan, dan membawa kemuliaan Tuhan kepada bangsa-bangsa. [Ibrani 12:22].

Last edited by kickey : 20-09-2007 at 09:16 AM.
Reply With Quote
  #4  
Old 20-09-2007, 08:25 AM
kickey's Avatar
kickey kickey is online now
IndoForum Junior D
 
Join Date: Sep 2006
Posts: 1,778
Rep Power: 3
kickey dipertanyakan oleh banyak orang
I.3. Dasar dan Tujuan Pembangunan Tabernakel

I.3.1. Yesus adalah Tabernakel yang sebenarnya
Ketika Allah memerintahkan Musa untuk mendirikan Tabernakel, Dia memberi petunjuk, bahwa bangsa Israel harus membuat tempat kudus bagi Allah menurut contoh Kemah yang ditunjukkan Tuhan di atas gunung Sinai [Keluaran 25:8-9]. Kemah Suci dan pelayanan mereka dalam Kemah Suci adalah gambaran atau bayangan dari apa yang ada di Sorga [Ibrani 8:5].

Yang di sorga adalah Allah, yang ingin membukakan diri, agar manusia mengenal Dia dengan benar. Sebab itu, Allah memberikan kepada Musa suatu Tabernakel di gunung Sinai. Berarti pola yang diberikan adalah gambaran Pribadi dan rencanaNya yang besar, agar manusia yang telah jatuh, dan tidak lagi sempurna seperti awal mula diciptakan, dapat dipulihkan dan diselamatkan. Mengapa demikian? Pola Tabernakel yang diberikan kepada Musa, dikala manusia hidup dalam keadaan berdosa. Tuhan ingin memberikan contoh, atau bayangan akan rencanaNya, dan rencana ini terkait dengan keselamatan manusia dan hubungannya dengan Dia. Tuhan rindu agar keintiman persekutuan di taman Eden itu dipulihkan.

Kita tahu bahwa “Jalan” untuk masuk kembali ke dalam keselamatan adalah hanya melalui satu-satunya jalan, yaitu Tuhan Yesus Kristus [Yohanes 14:6] Berarti Tabernakel atau pola yang diberikan dalam bentuk Tabernakel adalah gambaran bagaimana manusia diselamatkan dan panduan bagi manusia yang telah diselamatkan untuk bersekutu senantiasa dengan Tuhan (ibadah yang sejati).

Karena Tabernakel adalah bayangan jalan keselamatan dan hidup sempurna dalam hadirat Tuhan. Bayangan ini menunjuk kepada Yesus Kristus, Firman (yang adalah Allah) dalam tubuh daging [Yohanes 1:14]. Dari sini kita melihat, bahwa Allah di dalam wujud Yesus Kristus berdia (bertabernakel) ditengah-tengah kita. Yesus berkata tentang tubuh jasmaniNya, sebagai berikut: “Rombah Bait Allah ini, … Tetapi yang dimaksudkanNya dengan Bait Allah adalah tubuhNya sendiri.” [Yohanes 2:19-21].

Mari kita sedikit melihat asal usul kata yang digunakan dalam Yohanes 1:14 (“diam”), dibandingkan dengan Yohanes 2:19-21 (“Bait”).

Menurut Strong’s Concordance:
Kata “diam” dalam Yohanes 1:14,
Nomor 4637. skhnw skenoo skay-no’-o ; from 4636; to tent or encamp. i.e. (figuratively) to occupy (as a mansion) or (specifically) to reside (as God did in the Tabernacle of old, a symbol of protection and communion); --dwell.
Nomor 4636. sknov skenos skay’-nos ; from 4633; a hut or temporary residence, i.e. (figuratively) the human body (as the abode of the spirit):--tabernacle.
Kata “Bait” dalam Yohanes 2:19,
Nomor 3485. naov naos nah-os’ ; from a primary naiw naio (to dwell); a fane, shrine, temple: --shrine, temple. Comp 2411.
Nomor 2411. ieron hieron hee-er-on’ ; neuter of 2413; a sacred place, i.e. the entire precints (whereas 3485 denotes the central sanctuary itself) of the Temple (at Jerusalem or elsewhere):--temple.

Dari konkordansi tersebut kita dapat melihat bahwa makna kedua kata tersebut sama, yaitu:
• Membentangkan tenda atau berkemah;
• Berdiam (seperti yang Allah lakukan dalam Tabernakel Perjanjian Lama)
• Secara kiasan, menggambarkan tubuh manusia (sebagai tempat tinggal roh);
Sampai disini tentu sudah cukup jelas kaitan antara: Tabernakel Musa, Keselamatan, Tuhan Yesus Kristus, tubuh Yesus sebagai Bait Allah.

I.3.2. Kita (individu maupun Gereja) adalah Tabernakel Allah
Kemudian, apa kaitannya hal ini dengan kita, orang percaya? Mari kita lihat dari beberapa ayat berikut, untuk membuktikan secara Alkitabiah, bahwa tubuh kita dan Gereja adalah juga tabernakel Allah:
• “Tidak tahukah kamu, bahwa kamu adalah bait Allah dan bahwa Roh Allah diam di dalam kamu?” Jika ada orang yang membinasakan bait Allah, maka Allah akan membinasakan dia. Sebab bait Allah adalah kudus dan bait Allah itu ialah kamu. [1 Korintus 3:16-17];
• “Tetapi siapa yang mengikatkan dirinya pada Tuhan, menjadi satu roh dengan Dia. Atau tidak tahukah kamu, bahwa tubuhmu adalah bait Roh Kudus yang diam di dalam kamu, Roh Kudus yang kamu peroleh dari Allah, --dan bahwa kamu bukan milik kamu sendiri?” [1 Korintus 6:17,19].
• Apakah hubungan bait Allah dengan berhala? Karena kita dalah bait dari Allah yang hidup menurut firman Allah ini: “Aku akan diam bersama-sama dengan mereka dan hidup di tengah-tengah mereka, dan Aku akan menjadi Allah mereka, dan mereka akan menjadi umat-Ku.” [2 Korintus 6:6].
• Di dalam Dia tumbuh seluruh bangunan, rapih tersusun, menjadi bait Allah yang kudus, di dalam Tuhan. “ [Efesus 2:21].
• “Lalu ia membuka mulutnya dan menghujat Allah, menghujat nama-Nya dan kemah kediaman-Nya dan semua mereka yang diam di sorga.” [Wahyu 13:6];
• Lalu aku mendengar suara yang nyaring dari takhta itu berkata: “Lihatlah, kemah Allah ada di tengah-tengah manusia dan Ia akan diam bersama-sama dengan mereka. Mereka akan menjadi umat-Nya dan Ia akan menjadi Allah mereka.” [Wahyu 21:3].

Kembali terbukti bahwa manusia adalah Tabernakel atau Bait Allah yang kudus, dan Roh Kudus berdiam di dalamnya. Kalau manusia adalah Tabernakel Allah di zaman sekarang dan yang akan datang, berarti ini adalah bukti bahwa Tabernakel Musa sudah digenapi di dalam kita, baik sebagai individu, maupun sebagai Gereja.

Sampai disini sudah lengkap pembuktian kita, bahwa Tabernakel Musa terkait dengan Keselamatan (Yesus) dan Gereja, yaitu kita. Inilah dasar utama pembangunan Tabernakel yang diberikan kepada Musa, yaitu memberi gambaran akan rencana Allah dalam menyelamatkan umat manusia, dan seterusnya membentuk gereja sebagai suatu tempat tinggal Allah, dan akhirnya Allah akan senantiasa bersama dengan kita.

I.3.3. Pembangunan Tubuh Kristus
Gereja juga digambarkan sebagai tubuh Kristus, terdiri dari banyak anggota namun satu tubuh. Tabernakel adalah suatu bentuk bangunan, demikian juga Gereja adalah bangunan rohani, yang dibangun dari batu-batu yang hidup, “bagi suatu imamat kudus, untuk mempersembahkan persembahan rohani yang karena Yesus Kristus berkenan kepada Allah. [1 Petrus 2:5].

Namun, agar bangunan rohani ini dapat terbentuk, tentu melalui suatu proses pembangunan, seperti juga yang dicontohkan dalam pembangunan Tabernakel. Rasul Paulus menuliskan dalam Efesus 2:14-22:
2:18 karena oleh Dia kita kedua pihak dalam satu Roh beroleh jalan masuk kepada Bapa.
2:19 Demikianlah kamu bukan lagi orang asing dan pendatang, melainkan kawan sewarga dari orang-orang kudus dan anggota-anggota keluarga Allah,
2:20 yang dibangun di atas dasar para rasul dan para nabi, dengan Kristus Yesus sebagai batu penjuru.
2:21 Di dalam Dia tumbuh seluruh bangunan, rapi tersusun, menjadi bait Allah yang kudus, di dalam Tuhan.
2:22 Di dalam Dia kamu juga turut dibangunkan menjadi tempat kediaman Allah, di dalam Roh.
Yang cukup menarik untuk disimak adalah kata-kata kunci sebagai berikut:
• oleh Dia, di dalam Dia,
• dalam satu Roh,
• dibangun di atas dasar para rasul dan para nabi
• menjadi bait Allah yang kudus, tempat kediaman Allah, dalam Roh,
• Kristus Yesus sebagai batu penjuru.


Jadi, di dalam membangun rumah Allah yang rohani selalu berpusatkan Yesus Kristus. Dan, didasari oleh pengajaran yang telah diberikan melalui para rasul dan para nabi (tertulis dalam Alkitab), yang disampaikan dalam satu kesatuan Roh. Inilah yang akan kita lihat dalam pengajaran Tabernakel, apakah benar dalam pembangunannya, senantiasa berpusatkan Allah dan didasari perintah dan ketetapan Allah.

I.3.4. Kita adalah kawan sekerja Allah
Disamping digambarkan sebagai Bait Allah, batu-batu yang hidup, kita juga disebut: “…kawan sekerja Allah; kamu adalah lading Allah, bangunan Allah.” [1 Korintus 3:9]. Disini kita melihat pernyataan rasul Paulus bahwa dia (rasul) dan pembantu-pembantunya adalah kawan sekerja Allah, sedangkan Jemaat adalah lading atau bangunan Allah.

Saudara akan menemukan hal yang sama dalam pembangunan Tabernakel, ada tukang-tukang yang ahli, yang memegang peran penting dalam pembangunan Tabernakel Musa (Bezaliel dan Aholiab). Di samping itu banyak di antara bangsa Israel yang terpilih membantu Bezaliel dan Aholiab.

Kalau kita membandingkan antara Bezaliel dengan Yesus [Keluaran 31:2; Wahyu 5:5; Keluaran 31:3; Lukas 4:18; Keluaran 31:3; Yohanes 3:34-35], dan antara Aholiab dengan Roh Kudus [Keluaran 31:6; Yohanes 16:8-11; Efesus 2:20-22; Yohanes 14:26; 15:26; Keluaran 31:6; Kisah para Rasul 10:38; Keluaran 31:6; Yohanes 14:26; 16:13-15], maka kita akan mendapatkan kesamaan, baik dari asal suku, arti nama, anak siapa, diurapi Roh Kudus, dilengkapi karunia-karunia Roh, dan sebagainya.

Ini memberi kita pengertian, bahwa bila tukang-tukang yang membangun Tabernakel harus mendapat perlengkapan dari Allah dan Roh Kudus, demikian pula kita, hamba Tuhan, rekan sekerja Allah, harus dilengkapi dengan sifat-sifat Yesus dan kuasa Roh Kudus, supaya kita dapat dipakai membangun Rumah Allah yang rohani.

Kalau kita melihat semua itu, kita akan mengerti bahwa Tabernakel merupakan pola rencana Allah yang sangat besar bagi manusia dan hubungannya dengan Allah. Dengan konteks pemikiran seperti inilah, kita akan mempelajari pengajaran Tabernakel ini, yaitu mempelajarinya dalam kaitan dengan pemahaman rencana Allah bagi hidup kita, orang-orang percaya.

Pola ini sudah dan sedang dilaksanakan pembangunannya menuju kepada kesempurnaan, dalam Tuhan Yesus Kristus. Kita akan membandingkan apa yang ada dalam pola dan bagaimana penggenapannya dan demikian juga sebaliknya.

SALAM SEJAHTRA DARI YESUS MEMPELAI PRIA SORGA  

Get Your Own Calender - www.free-blog-content.com